Review artikel #6, Teori Legitimasi vs Teori Ekonomi Politik dalam Pengungkapan Lingkungan

 

Halo rekan, maaf sudah lama saya tidak update blog nih. Baiklah, artikel kali ini masih seputar kajian tentang pengungkapan lingkungan (environmental disclosure) yang membahas tentang pengungkapan kinerja lingkungan sebuah perusahaan pertambangan nikel saat kasus hujan asam lagi hit – hitnya terjadi di wilayah Canada dan sekitarnya. Penulis artikel ini, Nola Buhr (atau Buhr, N), menganalisis pengungkapan lingkungan pada kasus ini dengan menggunakan teori legitimasi dan teori ekonomi politik (political economy theory). Hal yang lebih menarik dari artikel ini adalah penulis ternyata tidak hanya menganalisis dengan dua teori tersebut, melainkan setelah itu, membandingkan teori mana yang lebih kuat dari dua teori tersebut. Bagaimana hasil analisisnya, yuk diikuti review berikut ini. Jika rekan – rekan

Judul asli artikel: Environmental Performance, Legislation and Annual Report Disclosure: The Case of Acid Rain and Falconbridge

Penulis : Nola Buhr, 1998

Download artikel

 

Tujuan penulisan artikel

Tujuan utama artikel ini adalah untuk menilai kekuatan antara legitimasi teori dan political economy thoery (PET) dalam menjelaskan perilaku pengungkapan kinerja lingkungan perusahaan.

Artikel ini melihat bahwa opini publik dan peraturan pemerintah merupakan pemicu awal yang pengungkapan kinerja lingkungan perusahaan. Oleh sebab itu, legitimasi teori dan PET merupakan teori yang banyak digunakan dalam penelitian sejenis. Sekilas, dua teori ini terlihat saling tumpang tindih, dua teori ini sama – sama mampu menjelaskan fenomena perilaku pengungkapan kinerja lingkungan. Namun, tentu tidak ada teori yang benar – benar identik, sehingga pastinya ada salah satu dari teori ini yang lebih bersifat dominan (lebih kuat) dari yang lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh penulis, menganalisis dan menilai keunggulan secara kualitatif kekuatan dari teori legitimasi dan PET.

Teori yang digunakan

Penulis menggunakan legitimasi teori dan Political Economy Theory (PET) sebagai lensa dalam menganalisis data. Penulis meyakini bahwa organisasi (dan perusahaan) serta sistem akuntansi yang ada di dalamnya berjalan dalam konteks sosial, politik dan ekonomi (dari lingkungan eksternal). Artinya aspek sosial, politik dan ekonomi mempengaruhi bagaimana perusahaan melaksanakan aktifitasnya, begitu juga sistem akuntansinya.

Oleh karena itu, untuk mempertahankan eksistensi bisnisnya, perusahaan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk memperoleh pengakuan lingkungan eksternal. Bagaimana cara memperoleh pengakuan lingkungan eksternal tersebut? penulis berpendapat bahwa ada dua cara untuk memperoleh pengakuan eksternal yaitu; (1) mengikuti opini sosial, sebagaimana yang dijelaskan oleh legitimasi teori, atau (2) merubah opini sosial sedekat mungkin dengan kemampuan perusahaan, dan kemudian mengikuti opini sosial yang telah berubah tersebut. Strategi ini dijelaskan oleh PET.

Pada bagian Theory and relevant empirical studies ini, halaman 164 dari artikel, penulis sedikit menyinggung tentang paradigma yaitu Social Constructionist dan Radical Structuralist (the hegemonic). Pembaca sebaiknya jangan sampai bingung dengan hal ini, karena dua hal tersebut tidak merubah makna dari apa yang dijelaskan oleh legitimasi teori dan PET. Penulis hanya berupaya menjelaskan bahwa Legitimasi teori merupakan teori yang berada dalam paradigma social constuctionist. Artinya, perusahaan dan sistem akuntansinya merupakan hasil bentukan sosial, oleh karena itu opini lingkungan sosial ekstenal dikatakan mampu merubah perilaku perusahaan. Arah perubahan dalam paradigma sosial constuctionist berasal dari luar ke dalam, artinya perubahan itu berasal dari lingkungan eksternal ke internal perusahaan.

Sementara PET dikatakan berada dalam paradigma radical structuralist. Artinya, perusahaan mengganggap bahwa opini sosial menjadi belenggu yang menghambat ruang gerak mereka. Oleh karena itu, upaya untuk merubah opini sosial menjadi sebuah strategi yang dilakukan perusahaan agar opini sosial atau standar sosial masih berada dalam spektrum yang dapat mereka jangkau, standar sosial diupayakan tidak terlalu tinggi atau jauh dari kemampuan perusahaan. Arah perubahan dalam paradigma ini berasal dari dalam (internal perusahaan) ke luar (lingkungan eksternal).

Singkatnya, legitimacy theory dan political economy theory merupakan alat analisis yang digunakan dalam artikel ini. Adanya paragraf yang menjelaskan tentang social constructionist dan radical structuralist (the hegemonic) hanya merupakan perspektif yang menjelaskan apa yang terjadi pada realitas (dalam hal ini adalah pengungkapan lingkungan). Social structuralist berpendapat bahwa pengungkapan lingkungan terjadi karena adanya opini publik, sementara radical structuralist berpendapat bahwa pengungkapan lingkungan dapat menjadi media untuk merubah opini publik kearah yang diinginkan.

Metode analisis

Artikel ini menggunakan tiga jenis metode pengumpulan data, dan analisis data menggunakan pendekatan kualitatif (secara dominan), dan legitimacy dan PET sebagai alat analisis data. Data dikumpulkan dengan metode (1) Histografi, yaitu dengan menelusuri sejarah dari objek yang sedang diteliti, yaitu Falconbridge perusahaan pertambangan nikel di Canada, dan sejarah dari peraturan pemerintah tentang batas emisi sulfur untuk industri. (2) Wawancara, dilakukan pada pihak manajemen Falconbridge tentang respon perusahaan terhadap peraturan batas emisi sulfur tersebut. dan (3) Content analysis, dilakukan pada annual report Falconbridge dengan cara menghitung jumlah kata yang berhubungan dengan pelaporan lingkungan. Analisis ini mengelompokkan pengungkapan perusahaan kedalam kategori ekonomi, politik, teknologi, dan sosial.

Penggunaan tiga metode pengumpulan data ini dimaksudkan penulis untuk menjamin validitas dan reabilitas data. Pendekatan ini dikenal dengan istilah triangulasi, meskipun tidak semua penilitian kualitatif (dan juga tidak diwajibkan) menggunakan teknik triangulasi ini. Namun, penulis artikel ini berpendapat bahwa dengan adanya triangulasi (histrografi, wawancara dan content analysis) maka akan semakin memberi keyakinan ketika tiga sumber data tersebut saling mendukung, saling mengonfirmasi dan saling konsisten satu dengan yang lain.

Jadi, jika teman – teman ingin mengetahui bagaimana cara menyajikan hasil penelitian dengan pendekatan triangulasi, bagaimana cara menyambungkan hasil analisis histografi dengan wawancara dan hasil content analysis, mungkin artikel ini dapat menjadi salah satu bahan rujukan.

Hasil penelitian

Hasil analisis penelitian ini (sebenarnya sudah dapat ditebak dari awal) menemukan bahwa legitimasi teori lebih kuat atau lebih dominan dibandingkan dengan political economy theory. Mengapa demikian?

Mengapa saya katakan hasil penelitian ini sudah dapat ditebak dari awal? Coba perhatikan tulisan artikel ini, pada halaman 164, dibagian Theory and relevant empirical studies. Bagian ini langsung diawali dengan kalimat:

“Organizations and their accounting systems operate in a social, political and economic context. Their continuing existence, … depends on obtaining and maintaining social approval, i.e., legitimacy… if relevant public is dissatisfied with the performance of an organization it can apply pressure to the firm…”

Dari kutipan tersebut, saya melihat bahwa dari awal sesungguhnya penulis sudah meyakini bahwa legitimasi teori lebih dominan dalam kasus pengungkapan lingkungan. Namun, kemungkinan lainnya adalah penulis artikel ini mencoba untuk melihat pada level yang lebih tinggi, dimana organisasi pada dasarnya membutuhkan pengakuan sosial. Pengakuan sosial dapat diperoleh melalui dua cara (menurut artikel ini) yaitu dengan cara mengikuti begitu saja (taken for granted) ekspektasi dan opini sosial sebagaimana yang dijelaskan oleh legitimasi teori, atau perusahaan mencoba merubah dan menurunkan ekspektasi sosial (seperti yang dijelaskan oleh PET), kemudian mengikuti perubahan tersebut.

Dari cara berpikir tersebut, maka dapat kita pahami alasan penulis dalam membandingkan legitimasi teori dan PET. Menurut tulisannya pada halaman 165, paragraf terakhir yang mengatakan:

“Therefore, the distinction between legitimacy theory and political economy theory is … They both serve to legitimate, but means and motivation are viewed differently.”

Singkatnya, legitimacy theory dan PET sama – sama bertujuan untuk mencapai pengakuan sosial, namun dengan cara berbeda. Legitimasi teori menerima dan mengikuti standar dan ekspektasi publik, sementara PET mencoba sedikit melingkar dengan cara merubah standar dan ekspektasi publik setelah itu baru mengikuti perubahan standar tersebut.

Hasil penelitian ini menemukan bahwa legitimasi teori lebih kuat dalam menjelaskan fenomena pengungkapan lingkungan pada perusahaan Falconbridge. Mengapa? Karena setelah dianalisis dengan PET, upaya perusahaan untuk merubah standar dan ekspektasi publik (dalam hal ini adalah mempengaruhi regulator dalam menentukan batas emisi) tidak membuahkan hasil. Terdapat beberapa upaya Falconbridge dalam menurunkan standar batas emisi sulfur yang ditetapkan pemerintah. (1) mengungkapkan secara retorik keunggulan teknologi yang dimiliki perusahaan, oleh sebab itu pemerintah diminta untuk tidak menekan perusahaan secara berlebihan karena sesungguhnya perusahaan telah memiliki solusi atas permasalahan lingkungan yang sedang terjadi. (2) perusahaan membentuk tim dari internal mereka, dan mengirim tim tersebut untuk bergabung dengan pemerintah dalam proses penetapan batas emisi sulfur. Keberadaan tim ini bertujuan untuk memantau perkembangan proses penetapan peraturan tentang emisi sulfur, sehingga perusahaan dapat mengantisipasi peraturan tersebut dimasa mendatang. Namun, hasil analisis pada artikel ini mengindikasikan bahwa upaya tersebut di atas tidak berhasil, karena selain berbiaya tinggi, hal ini juga disebabkan karena ekspektasi pemerintah (diibaratkan seperti target yang bergerak) dan pergerakan tersebut sulit untuk diprediksi. Pergerakan ekspektasi pemerintah tersebut cenderung terus meningkat sehingga Falconbridge mulai menurunkan pengungkapannya yang bersifat retorik.

Falconbridge memilih untuk memenuhi level minimun dari batas emisi yang ditetapkan pemerintah, dan mengurangi pengungkapan yang terlalu menonjolkan keunggulan teknologi mereka. Hal ini merupakan strategi yang disebut dalam artikel ini sebagai Low Key Nature. Menurut artikel ini, jika perusahaan terlalu memperlihatkan keunggulan dan kemampuan mereka untuk menurunkan emisi, maka pada periode berikutnya pemerintah akan meningkatkan batas minimum emisi. Kekhawatiran ini terdapat pada tulisan di halaman 183 paragraf kedua artikel ini. Yaitu,

“once you say that you will do something the government will legislate and make you even do more”

Sekian review artikel kali ini. Jika ini bermanfaat, mohon dishare kepada rekan – rekan lain yang  juga membutuhkan. Mari kita berbagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *