Review Artikel #9 Organisasi Hibrida, mampukah bertahan.

Judul asli artikel: Building Sustainable Hybrid Organizations: The Case of Commercial Microfinance Organizations.

Pernah mendengar istilah hybrid organization (organisasi hibrida)? Hybrid organization merupakan organisasi yang “mengawinkan” dua logika institutional yang berbeda (dan bahkan berseberangan) menjadi suatu bentuk identitas baru organisasi. Keberadaan organisasi yang memiliki beberapa logika (multiple logics) seperti ini merupakan sesuatu yang lumrah dan wajar, dan bahkan menjadi suatu keharusan ditengah berbagai resiko dan ketidakpastian yang menghadang organisasi. Karena faktanya semakin kompleks dinamika organisasi, maka akan semakin banyak variasi logika yang diadopsi organisasi agar dapat survive. Namun, konsekuensi dari penerapan multiple logics ini adalah adanya ancaman perpecahan internal dari pengaruh lingkungan institusional masing – masing logika yang diadopsi.

Logika institusional akan mempengaruhi cara individu dalam bertindak, oleh sebab itu variasi logika institusional juga akan menciptakan variasi tindakan individu dalam mencapai tujuan organisasi. Kondisi multiple logics seperti ini seringkali menjadi kelemahan bagi organisasi hibrida, dimana akan mudah sekali terjadi konflik internal yang menimbulkan kerentanan dan ketidakstabilan organisasi. Pada umumnya, kerentanan dan ketidakstabilan suatu organisasi yang menerapkan multiple logics dapat dikurangi melalui mekanisme pemodelan (mimicking) terhadap organisasi hybrida lainnya yang telah memiliki pengalaman terlebih dahulu. Namun hal ini menjadi menarik jika kita berada pada konteks dimana belum ada satu organisasi pun yang dapat dijadikan model untuk menjalankan suatu bentuk kombinasi logika tertentu. Bagaimana organisasi hibrida seperti ini dapat bertahan ketika belum terdapat teks atau naskah yang dapat dijadikan acuan untuk mengantisipasi tekanan dan konflik logika internal.

Download

 

Pertanyaan ini lah yang dijawab oleh artikel “Building sustainable hybrid organizations: the case of commercial microfinance organizations” yang ditulis oleh Battilana dan Dorado (2010). Artikel ini sangat cocok buat rekan – rekan yang sedang mencari literatur tentang institutional teori khususnya Old institutional theory. Artikel ini juga dapat membantu menambah wawasan seputar dinamika microfinance, tentang perjuangan organisasi microfinance untuk tetap survive ditengah kompetisi industri pembiayaan mikro. Peran identitas organisasi juga diulas dalam artikel ini dan kemudian dikombinasikan dengan institusional teori. Disamping itu, artikel ini juga menambah wawasan pembaca tentang manajemen konflik internal. Kontribusi artikel ini adalah analisis yang dilakukan pada level intraorganisasi dan level organisasi.

Transformasi, microfinance menjadi commercial microfinance

Dalam artikel ini penulis mengambil kasus hybrid organization pada dua organisasi microfinance (organisasi A dan organisasi B) yang bertransformasi menjadi organisasi commercial microfinance. Kasus transformasi organisasi ini dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan organisasi untuk tetap survive jika hanya menggunakan logika pembangunan dan pemberdayaan sosial yang sangat mengandalkan dana dari donatur. Perubahan dan dinamika sosial diperlihatkan dari ketidakkonsistenan donatur dalam mendukung kegiatan sosial organisasi yang merupakan jenis organisasi nirlaba. Ancaman terhadap eksistensi organisasi kemudian membuat CEO organisasi microfinance tersebut berpikir untuk merubah jenis dan identitas organisasi. Jenis organisasi yang awalnya murni sebagai organisasi nirlaba, sekarang berubah menjadi organisasi komersial yang mencari keuntungan dari kegiatan pendanaan mikro.

Kembali pada isu eksistensi hybrid organization. Faktanya kebanyakan organisasi hibrida sulit bertahan dan akhirnya mati. Mereka tidak dapat bertahan ditengah kebingungan mengelola organisasi yang memiliki lebih dari satu logika institusional dan masing – masingnya saling berbeda. Kehancuran organisasi justru berasal dari tekanan dan konflik internal yang dipicu oleh perbedaan logika institutional para anggota organisasi.

Pada kasus multiple logics yang diceritakan pada artikel ini, konflik terjadi antara orang lama dan orang baru. Orang lama merupakan staf lama yang direkrut pada saat organisasi masih berbentuk nirlaba, dan logika yang digunakan adalah logika pemberdayaan sosial. Sementara orang baru adalah staf yang direkrut pada saat organisasi sudah bertransformasi menjadi bentuk commercial microfinance, dan orang – orang tersebut semuanya memiliki background akuntansi, keuangan dan auditing. Konflik internal muncul hampir disetiap aktivitas organisasi. Orang baru dianggap terlalu mempersulit administrasi dan tidak mengerti apapun tentang kompleksitas di lapangan. Sementara orang lama dituding sebagai pihak yang akan merugikan dan menghancurkan organisasi karena tidak mengerti dan tidak paham dengan prosedur dan tata terbit administrasi organisasi. Konflik tersebut menimbulkan permasalahan baru yaitu semakin lambatnya proses operasionalisasi dalam memberikan pelayanan kepada nasabah. CEO yang juga termasuk orang lama, dengan logika pemberdayaan sosialnya, juga tidak dapat secara tegas menentukan sikap dalam mengontrol konflik tersebut. Singkatnya, artikel ini memperlihatkan bahwa organisasi commercial microfinance ini (organisasi A) gagal dalam mempertahankan eksistensi organisasinya.

Hybrid organization yang gambarkan pada paragraf di atas berada pada kondisi dimana tidak ada organisasi serupa yang mengalami kasus yang sama sebelumnya. Artinya kasus pada organisasi hibrida A diatas adalah kasus pertama yang terjadi pada konteks penelitian artikel ini. Kondisi ini mempersulit organisasi untuk melakukan pemodelan. Ditengah kebingungan dalam menghadapi konflik logika internal, mereka tidak memiliki panduan yang dapat diikuti untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Institusional teori menjelaskan bahwa tidak mungkin beberapa logika yang berbeda dapat berjalan secara beriringan dan selaras dalam sebuah organisasi. Karena akan ada salah satu logika yang akan mendominasi logika lainnya. Hal inilah yang ditemukan oleh artikel ini pada organisasi hibrida A, dimana pada akhirnya logika pemberdayaan sosial lebih menjadi dominan dari logika profit. Di saat yang bersamaan, dimana dukungan dana donatur tidak dapat diandalkan, organisasi dengan dominasi logika pemberdayaan sosial tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada institusi keuangan. Kondisi inilah yang membuat organisasi hibrida ini pada akhirnya tidak dapat survive dan mati. Pada akhir penelitian, diuraikan bahwa terjadi pergantian CEO pada organisasi hibrida A yang dipilih dari individu yang sangat memahami seluk beluk dunia perbankan, dan memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan. Disini terlihat bahwa hibrida organisasi yang bertujuan mencari keseimbangan logika sosial dan ekonomi, pada akhirnya dijalankan dengan dominasi logika ekonomi. Identitas hibrida tidak tercapai.

Keseimbangan logika (Balance the logics)

Mengapa organisasi harus mengadopsi berbagai logika yang berbeda dalam organisasi mereka? Kebutuhan akan multiple logics timbul karena dinamika dan perubahan lingkungan eksternal dan internal yang begitu cepat dan tidak dapat diprediksi. Sebagaimana yang dijelaskan pada kasus di atas, bahwa mengandalkan logika pemberdayaan sosial saja tidak dapat membuat organisasi survive ketika ketersediaan dana donatur tidak diprediksi. Oleh sebab itu, artikel ini mengamati kasus berikutnya dimana organisasi Hibrida B, beroperasi setelah kasus terjadinya kasus hibrida A. Penjelasan artikel tentang organisasi hibrida B mampu menciptakan sebuah konstruk tetang strategi organisasi ini dalam mempertahankan sustainability-nya.

Pada saat bertransformasi menjadi jenis organisasi baru, sebuah organisasi juga harus menciptakan identitas baru. Mereka tidak dapat lagi menggunakan identitas lamanya karena hal tersebut tidak relevan lagi dengan kondisi baru saat ini. Dengan ditetapkannya identitas baru organisasi, maka tujuan organisasi juga berubah. Selanjutnya akan mempermudah organisasi dalam merumuskan faktor – faktor organisasional dan sistem operasionalnya. Singkatnya, kombinasi beberapa logika, atau “perkawinan” dua logika ini harus dapat menciptakan “kerukunan” pada organisasi yang baru saja bertransformasi tersebut. Dua logika yang dikombinasikan ini harus dapat berjalan beriringan dan selaras satu sama lain. Karena jika tidak, maka tujuan awal dari transformasi yang dilakukan organisasi akan sia –  sia. Tujuan awal untuk survive dan lepas dari ketergantungan dana donatur tidak akan tercapai, dan tentu saja hal ini dapat mengancam eksistensi organisasi. Oleh sebab itu, konsep yang bangun oleh artikel ini adalah Balance the logics.

Balance the logics merupakan kondisi ideal dimana logika pemberdayaan sosial dan logika ekonomi komersial berjalan berdampingan dan seimbang. Seimbang artinya tidak ada salah satu logika tersebut menjadi ordinat atau subordinat terhadap yang lainnya. Namun, kondisi balanced logics ini mustahil dapat tercapai jika dilihat dari sudut pandang institusional teori. Institusional teori menjelaskan bahwa terdapat salah satu logika yang akan mendominasi logika – logika lainnya dalam sebuah multiple logics condition. Ini disebabkan karena menurut institusional teori, sangat mustahil bagi organisasi untuk dapat menjalankan multiple institutional logics. Koeksistensi dari berbagai logika institusional tersebut akan menciptakan konflik dan tekanan yang bersifat internal.

Berdasarkan sudut pandang institutional teori tersebut, dapat dikatakan bahwa hybrid organization tidak akan bertahan lama, dan tidak akan survive dengan combined logic-nya. Karena hybrid organization merupakan organisasi yang tidak stabil (disebabkan kebingungan dalam menerapkan dua logika tersebut) dalam jangka panjang, sehingga ketika salah satu logika mendominasi yang lainnya, hybrid organization akan berubah menjadi logika dominan tersebut. Atau dalam artian bahwa hybrid organization gagal mempertahankan combined logic-nya. Kembali pada kasus organisasi commercial microfinance di atas, maka dalam jangka panjang ia akan menjadi organisasi komersial saja, atau kembali menjadi organisasi nirlaba microfinance seperti sebelumnya.

Artikel ini berhasil membangun sebuah konstruk untuk mengatasi kekhawatiran akan eksistensi jangka panjang hybrid organization tersebut. Konstruk tersebut menitikberatkan pada pentingnya menciptakan common identity bagi organisasi. Identitas baru sangat penting bagi hybrid organization karena seiring dengan berubahnya logika organisasi menjadi combined logics, maka harus berubah pula identitas organisasi. Identitas tersebut diciptakan dengan mengoptimalkan faktor – faktor organisasional seperti, sistem perekrutan staf, sistem promosi dan sistem sosialisasi. Identitas organisasi memengaruhi perilaku individu, dan perilaku individu akan menjadi kunci tercapainya tujuan balance between the logics-nya organisasi. Selanjutnya, konstruk ini juga menjelaskan antisipasi yang dapat dilakukan jika tekanan internal dan konflik internal tidak dapat dikendalikan, dan bahkan dapat mengancam survive-nya hybrid organization. Konstruk ini menjelaskan bahwa terdapat kunci kendali pada setiap faktor organisasional, misalnya kendali pada sistem perekrutan difokuskan pada ketiadaan pengalaman kerja, dan kemampuan calon staf untuk bersosialisasi. Jika dilakukan hal yang sebaliknya yaitu fokus mencari calon staf dengan pengalaman kerja dan kemampuan yang tinggi, hal ini justru akan berpotensi mengancam identitas baru organisasi dan mengancam sustainability organisasi hibrida.

Demikian revierw artikel kali ini, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *