Review Artikel #8 Social Sustainability; Sebuah Penjabaran Konsep

Halo rekan, update blog kali ini membahas tentang Social Sustainability. Bagi rekan yang baru mendengar istilah ini, singkatnya Social Sustainability merupakan salah satu unsur dari tiga pilar pembangunan berkelanjutan (triple bottom line) yaitu unsur sosial. Kajian tentang Social sustainability selama ini belum berkembang dengan pesat karena dianggap tidak berperan penting dalam pencapaian kelestarian lingkungan. Hal ini sangat wajar, karena ketika mendengar istilah pembangunan berkelanjutan (sustainability development) maka hal yang pertama kali terpikir oleh kebanyakan orang adalah kerusakan planet, seperti pencemaran udara, air dan penurunan tingkat kesuburan tanah. Nah, hal inilah yang dibahas oleh author dalam artikelnya ini. Mereka berargumentasi bahwa Sustainability Development (pembangunan berkelanjutan) tidak dapat tercapai jika mengabaikan aspek social sustainability. Dengan kata lain, social sustainability merupakan kunci penting dalam proses terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Namun sayangnya, social sustainability itu sendiri masih ambigu dan membingungkan, sehingga author dalam artikel ini menawarkan gagasannya dalam mengklarifikasi konsep sosial sustainability. Bagaimana bentuk social sustainability yang ditawarkan dalam artikel ini? Silahkan disimak review berikut.

Judul Asli: WHAT IS SOCIAL SUSTAINABILITY? A CLARIFICATION OF CONCEPTS

Penulis: S. Vallance, HC Perkins, JE Dixon, (2011)

DOWNLOAD ARTIKEL

Sejak dipublikasikannnya Bruntland Report (1987), kajian tentang sustainabiliy development mulai bermunculan dengan berbagai konsep dan istilah yang menarik. Namun, author artikel ini melihat bahwa konsep – konsep tersebut masih belum terarah. Hal tersebut khususnya pada kajian social sustainability, yang mana author berpendapat bahwa kajian tersebut belum mampu memberikan jawaban atas kegagalan beberapa program dan kebijakan sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Aspek sosial adalah hal yang sangat komplek, oleh sebab itu author menyajikan artikel ini dengan tujuan menguraikan dan menelusuri kembali dimensi sosial dari konsep pembangunan berkelanjutan, agar lebih memudahkan proses tercapainya implementasi program dan kebijakan yang berhubungan dengan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga: Review artikel #6, Teori Legitimasi vs Teori Ekonomi Politik dalam Pengungkapan Lingkungan

Author berpendapat bahwa dalam menyukseskan sustainability development, kita tidak dapat hanya fokus pada aspek lingkungan alam bio fisik saja. Melainkan, aspek sosial yaitu masyarakat, individu dan kelompok memainkan peran penting dalam tercapainya kelestarian lingkungan alam bio-fisik. Oleh sebab itu, author berpendapat bahwa aspek sosial , yang dalam artikel ini disebut juga dengan istilah social sustainability atau social development, penting untuk dikaji lebih mendalam agar tujuan sustainability development dapat tercapai.

Apakah social sustainability?

Author Mengidentifikasi aspek social sustainability dari beberapa artikel terdahulu dan menghubungkan aspek tersebut pada konsep sustainability development. Hasilnya author mengklasifikasikan social sustainability kedalam 3 kelompok yaitu development, bridge, dan maintenance, yang kemudian disebut sebagai “Tripartite Social Components”.

Development sustainability membahas tentang bagaimana kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, bagaimana menciptakan social capital (atau social cohesion, atau social exclusion), dan bagaimana memberikan keadilan (atas kekuasaan) pada masyarakat. Pembangunan sosial berkelanjutan (development sustainability) di sini meliputi berbagai aspek yaitu distribusi kekuasaan dan sumberdaya, pendidikan, lapangan pekerjaan, infrastruktur, kebebasan dan kemerdekaan, keadilan. Aspek ini merupakan kebutuhan dasar masyarakat dan sosial yang harus dipenuhi dalam rangka mencapai pembangunan sosial berkelanjutan. Oleh sebab itu, elemen development dalam social sustainability bertugas mengidentifikasi dan menjamin ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat sosial tersebut.

Baca juga: Tekanan Politik, Fungsional dan Sosial dalam Organisasi; Sebuah Penalaran Bentuk Konstelasi

Bridge sustainability fokus pada bagaimana merubah perilaku masyarakat agar tujuan kelestarian lingkungan bio fisik dapat tercapai; pendekatan menuju perilaku eco-friendly dapat bersifat transformative dan non transformative. Pendekatan transformative adalah pendekatan yang bersifat kritis, mengkritik bahwa praktik masyarakat saat ini jauh dan berjarak dari  alam. Oleh sebab itu pendekatan ini berupaya merubah perilaku masyarakat agar kembali mendekati alam dan bersahabat dengan alam dalam kesehariannya. Singkatnya, pendekatan ini bertujuan merubah perilaku masyarakat. Sementara itu pendekatan non transformative fokus pada pencapaian teknologi yang ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak menitikberatkan terjadinya perubahan fundamental terhadap cara manusia berinteraksi dengan alam. Pendekatan ini lebih cenderung membahas tentang inovasi teknologi yang ramah lingkungan, ketimbang perubahan gaya hidup yang lebih mendekati alam.

Maintenance sustainability meliputi ruang lingkup tentang bagaimana menjaga keberlanjutan lingkungan bio fisik dari sudut pandang social budaya. Aspek maintenance sustainability membahas cara agar tradisi, praktik, dan kebiasaan masyarakat yang selama ini dekat dengan alam dipelihara dan dijaga dari tekanan modernitas. Hal yang menarik dari aspek maintenance adalah menjaga agar perasaan nyaman dan mudah yang dirasakan oleh masyarakat dapat mempercepat dan mendorong keberterimaan masyarakat terhadap implementasi program – program keberlanjutan. Aspek ini kemudian menyarankan agar setiap program – program keberlanjutan yang akan diterapkan pada masyarakat sebaiknya memperhatikan unsur “kenyamanan” dan “kemudahan” bagi masyarakat.

Dapatkah tiga elemen ini saling mengisi dan saling mendukung satu dengan yang lain?

Sayangnya, tiga elemen social sustainability ini tidak sepenuhnya dapat bersinergi dalam tahap implementasi. Pada artikel ini author membahas bagaimana gap dan konflik muncul dalam pengaplikasian elemen-elemen social sustainability tersebut. Konsep yang muncul dari konflik tersebut adalah “adverse environmental effect”. Konsep ini menjelaskan bahwa penerapan suatu elemen social sustainability justru dapat merusak atau merugikan sustainability itu sendiri. Seperti implementasi kebijakan dan program ramah lingkungan yang berorientasi teknologi, justru berpotensi merusak tradisi dan kenyamanan kelompok masyarakat tertentu yang selama ini telah dekat dan selaras dengan lingkungan alam. Gap lainnya juga muncul pada saat penerapan teknologi dan kebijakan eco-friendly (yang sangat bersifat objektif) sulit dikoneksikan dengan kehidupan masyarakat yang secara nyata lebih melibatkan values, emosi dan etika. Hal ini yang kemudian memunculkan penolakan dari masyarakat terhadap penerapan kebijakan maupun teknologi yang dianggap mengganggu kenyamanan, karena kenyamanan merupakan values yang dimiliki kuat oleh masyarakat. Begitu juga dengan penerapan kebijakan dan teknologi yang justru dirasa semakin mempersulit (bukan mempermudah) interaksi masyarakat dengan alam.

Menurut author, konflik inilah yang pada umumnya menyebabkan begitu banyak program tentang sustainability development tidak berjalan dengan baik dan sukses. Penyebab konflik ini adalah karena kita melupakan aspek socio cultural dalam mengimplementasikan SD. Sebagaimana yang dikutip oleh penulis dari tulisan author dalam teks tersebut:

One of the social concerns driving sustainable development is that it is only when people’s basic needs are met that they can begin to actively address bio physical environmental concerns.

Artinya, socio cultural-kehidupan masyarakat dan karakteristiknya, jika hal itu dapat dijaga dan masyarakat merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup dan mempertahankan karakteristik mereka, maka mereka dapat dengan mudah dilibatkan untuk memperhatikan lingkungan alam bio dan fisik. Sebaliknya jika hal itu tidak tercapai, maka akan sulit untuk sampai pada tingkat pemeliharaan lingkungan alam.

Sementara itu, program dan kebijakan SD harus tetap berjalan ditengah gap dan konflik-konflik tersebut. Namun, author berpendapat bahwa meskipun masih terdapat gap dan konflik dalam aspek social sustainability, paling tidak aspek social sustainability itu sendiri sudah memiliki bentuk yang lebih terarah dan terpola (tripartite social components). Disamping itu, meskipun belum berjalan secara sempurna, namun kompleksitas sosial dalam mendukung sustainability development dapat diuraikan secara lebih sederhana dengan tiga aspek social sustainability tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *