Review Artikel #7 Legitimasi Teori, Benarkah sebuah teori yang belum tuntas??

Halo rekan, update blog kali ini akan mengupas tentang Legitimasi Teori. Hal yang paling sering menjadi diskusi dan pembahasan dalam penelitian akuntansi lingkungan dan sosial adalah “teori apa yang paling cocok untuk menjelaskan fenomena pengungkapan dan pelaporan kinerja lingkungan organisasi”? pada umumnya, legitimasi teori merupakan teori yang paling banyak digunakan dalam analisis penelitian akuntansi lingkungan dan sosial. Namun, chen dan Roberts (2010) memberikan argumentasi yang berbeda. Menurut mereka legitimasi teori merupakan teori yang belum tuntas dalam menjelaskan motivasi dibalik fenomena pengungkapan lingkungan. Legitimasi teori memang telah digunakan secara luas, namun legitimasi teori itu sendiri belum sepenuhnya dapat dikatakan teori, karena membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan lebih lanjut terhadap definisi legitimasi itu sendiri. Klaim inilah yang menarik dari artikel ini. Bagaimana substansi dari artikel ini, yuk ikuti review berikut ini.

Judul Asli : Toward a more coherent understanding of the organization-society relationship: a theoretical consideration for social and environmental accounting research

Penulis : Jennifer C. Chen dan Robin W. Robert (2010)

DOWNLOAD ARTIKEL

Tulisan blog kali ini akan mengupas tentang perspektif baru yang ditawarkan oleh author (yaitu Chen dan Roberts, 2010) terhadap teori-teori yang dapat mendukung fenomena akuntansi lingkungan dan sosial. Menurut mereka fenomena pengungkapan dan pelaporan kinerja lingkungan organisasi, disusun dari bangunan-bangunan berbagai teori yang berbeda (bukan hanya dari legitimasi teori tunggal). Teori – teori yang dimaksud oleh author dalam artikel ini adalah legitimacy theory, institutinal theory, resource dependence theory, dan  stakeholder theory yang dinilai saling tumpang-tindih (overlapping). Bangunan teori – teori yang berbeda tersebut pada beberapa bagian memiliki penjelasan yang saling tumpang-tindih dengan legitimasi teori, namun sesungguhnya masing – masing teori tersebut memiliki penekanan yang saling berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan penekanan makna dari konsep – konsep yang ditawarkan oleh setiap teori tersebut, dapat diinterpretasikan kembali sesuai dengan fokus isu penelitian yang sedang dipelajari. Artinya bangunan teori – teori tersebut dapat dikreasikan secara kreatif oleh peneliti dalam membangun argumentasi yang berkaitan dengan hubungan organisasi dan lingkungan sosialnya. Hal ini lah yang dilakukan oleh Chen dan Roberts (2010) dalam artikel ini.

Author dalam argumentasinya secara jelas menyatakan tidak sependapat jika legitimacy theory digunakan sebagai satu – satunya teori tunggal yang digunakan dalam topik penelitian akuntansi lingkungan dan sosial. Sebaliknya author justru mempertanyakan kembali kekuatan legitimasi teori jika digunakan dalam penelitian akuntansi lingkungan dan sosial. Bahkan author berargumentasi bahwa legitimasi teori belum dapat sepenuhnya menjadi teori praktis, karena legitimasi teori masih bersifat abstrak. Lebih lanjut, argumentasi author terhadap ketumpangtindihan teori – teori tersebut menawarkan sebuah sudut pandang baru yaitu “communication and compromise” dalam menjelaskan makna dari hubungan organisasi dengan lingkungan, dan makna yang melatarbelakangi aktivitas lingkungan dan sosial yang dilaksanakan oleh organisasi secara sukarela.

Bagaimana alur berpikir author dalam menggagas konsep “communication and compromise” ini?

Pada bagian pendahuluan, author berargumentasi bahwa legitimasi teori dan stakeholder teori, yang paling dominan digunakan dalam penelitian akuntansi lingkungan dan sosial, tidak dapat digunakan secara terpisah karena kedua teori tersebut bukanlah competing theories. Dua teori tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu sama – sama bertujuan menganalisis hubungan organisasi dengan lingkungan eksternalnya, namun dengan pendekatan dan penekanan yang berbeda. Begitu juga halnya dengan teori – teori lain yang relevan dengan legitimasi teori, yaitu institutinal theory, dan resource dependence theory (RD teori). Teori – teori ini memiliki semangat yang sama dalam menganalisis hubungan organisasi dengan lingkungan sosialnya, namun dari sudut pandang dan pendekatan yang berbeda. Seberapa jauh kesamaan yang dimiliki teori – teori ini? dan apakah perbedaan penekanan dan pendekatan setiap teori ini dapat disinkronkan lebih jauh lagi? Nah, hal inilah yang menjadi gap pada artikel ini.

Seberapa jauh kesamaan yang dimiliki teori ini?

Menurut author, teori – teori ini (legitimasi teori, stakeholder teori, institusional teori, dan resource dependence teori) memiliki pandangan ontologi yang sama. Teori – teori ini berpandangan bahwa

“Semua organisasi dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat mereka beroperasi, dan sebaliknya organisasi juga mempengaruhi lingkungan sosial tersebut.”

Dengan kata lain, organisasi beroperasi dalam kondisi yang saling membutuhkan dengan lingkungan sosialnya (interdependence). Hubungan saling membutuhkan tersebut dilakukan untuk mengurangi ketidakpastian (dinamika) yang terjadi di lingkungan sosial, dan untuk menjaga pertumbuhan dan kemampuan organisasi bertahan dalam kompetisi bisnis. Mengapa kondisi saling membutuhkan tersebut dapat mengurangi ketidakpastian lingkungan sosial, dan dapat memberikan posisi kompetitive bagi perusahaan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, authors terlebih dahulu menjelaskan hubungan “ketumpangtindihan” (overlapping) antar teori yang telah disebutkan dari awal artikel.

1. Institusional teori dan legitimasi teori

Institusional teori menekankan pada proses terbentuknya realitas sosial dan pola perilaku organisasi dalam mengikuti pola sosial tersebut. Asumsi dasar pada institusional teori adalah bahwa semua organisasi memiliki pola dan perilaku yang sama dengan norma lingkungan sosialnya. Kesamaan tersebut bukan hanya pada teknologi dan hal – hal lainnya yang bersifat materi, melainkan kesamaan kognisi, kesamaan dalam memahami norma, kesamaan keyakinan, dan kesamaan dalam memahami simbol. Pemahaman tersebut semakin lama semakin bersifat homogen, dan tujuan pemahaman yang homogen tersebut justru bukan untuk mencapai efisiensi produksi melainkan untuk memenuhi ekspektasi dan keberterimaan sosial.

Jika tujuan institusionalisasi adalah memperoleh keberterimaan sosial (legitimasi), maka disinilah overlapping (ketumpangtindihan) seperti yang dimaksudkan author terjadi. Ketika legitimasi menjelaskan bahwa organisasi membutuhkan keberterimaan sosial untuk mempertahankan keberadaannya, maka institusional teori dapat menjelaskan mengapa organisasi dapat terdorong untuk memahami norma, keyakinan dan simbol sosial, serta mengadopsi sistem sosial tersebut kedalam struktur internal mereka. Yaitu untuk memperoleh keberterimaan sosial, sebagaimana yang disebutkan dalam legitimasi teori.

Disini, instusinal teori menjelaskan secara lebih spesifik dari legitimasi teori. Legitimasi teori belum secara tuntas menjelaskan tentang proses keberterimaan sosial bagi organisasi. Namun, legitimasi teori mendukung hal tersebut dengan penjelasannya yang lebih detil dan spesifik.

2. Resource dependence (RD) teori dan legitimasi teori

RD teori menekankan pada aspek sumber daya sebagai sesuatu yang harus diperoleh organisasi untuk bertahan (survive). Oleh sebab itu, organisasi akan melakukan berbagai cara strategis untuk menjamin ketersediaan sumberdaya yang diperlukan. Cara strategis yang dimaksudkan adalah dengan membangun aliansi dengan lingkungan sosial.

Jika RD tujuannya adalah untuk menjamin ketersediaan sumber daya yang diperlukan, dan melihat bahwa keberterimaan sosial (legitimasi) merupakan sumberdaya yang sangat dibutuhkan oleh organisasi, maka disinilah overlapping tersebut terjadi. Ketika legitimasi menjelaskan bahwa keberterimaan sosial sangat dibutuhkan oleh organisasi untuk survive, maka RD menjelaskan bagaimana strategi organisasi untuk memperoleh legitimasi tersebut.

Disini terlihat bahwa RD menjelaskan dengan lebih spesifik upaya strategis perusahaan dalam mendapatkan legitimasi, dibandingkan legitimasi teori itu sendiri. Dengan kata lain, legitimasi sangat jelas terlihat sebagai sebuah teori yang masih bersifat umum, sementara RD teori dapat mendukung legitimasi teori dalam menjelaskan fenomena keberterimaan sosial secara lebih terperinci dalam aspek strategic action.

3. Stakeholder teori dan legitimasi teori

Stakeholder teori menyatakan bahwa stockholder (pemilik modal) saat ini bukan menjadi satu – satunya konstituen dalam lingkungan organisasi. Melainkan, keberadaan stakeholder juga menjadi pihak yang harus diperhatikan dan direspon kepentingannya oleh organisasi. Dengan demikian, jika Stakeholder teori menyatakan bahwa penting untuk merespon ekspektasi stakeholder, maka disinilah overlapping antara teori ini dengan legitimasi teori terjadi. Yaitu, ketika legitimasi teori menjelaskan pentingnya keberterimaan sosial agar organisasi tetap survive, maka stakeholder teori menjelaskan bahwa respon terhadap ekspektasi stakeholder dapat menciptakan dukungan sosial terhadap organisasi.

Setelah menjelaskan legitimasi teori dan teori – teori lainnya yang saling berkaitan dan saling overlap tersebut. Author sampai pada kesimpulan bahwa semua penjelasan teori – teori hubungan organisasi dan sosial tersebut bermuara pada konsep KOMUNIKASI dan KOMPROMI. Implikasi dari keterkaitan antara Institusional teori, resource dependent teori, stakeholder teori dan legitimasi teori adalah bahwa organisasi harus mengedepankan aspek komunikasi dan kompromi dengan lingkungan sosial mereka. Konsep komunikasi dan kompromi dapat meningkatkan keberterimaan kedua belah pihak, yaitu pihak organisasi dan pihak eksternal sosial. Oleh sebab itu, motivasi untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan kompromi inilah yang menurut author menjadi pendorong perusahaan untuk melaksanakan pengungkapan lingkungan.

Sekian review artikel kali ini. Jika ini bermanfaat, mohon dishare kepada rekan – rekan lain yang  juga membutuhkan. Mari kita berbagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *