Review Artikel #2, Paradoks Kinerja Keuangan pada Perusahaan Milik Negara

Halo teman, apakah ada yang membutuhkan ulasan artikel tentang paradok kinerja keuangan pada perusahaan milik negara (state owned enterprise, SOE)?, proses transformasi akuntansi manajemen pada perusahaan milik negara?, bagaimana dinamika hubungan perusahaan induk dan anak pada sebuah SOE?, dan dinamika perilaku mereka dalam menyambut globalisasi?. Artikel yang akan saya ulas pada kesempatan ini memiliki tema yang berkaitan dengan pertanyaan – pertanyaan tersebut. Silahkan disimak dan jika membutuhkan silahkan diunduh pada link yang tersedia di bagian akhir ulasan ini.

Judul artikel:

Stability and Change: An Institutionalist Study of Management Accounting Change (2005)

Penulis: A.K. Siti-Nabiha, dan Robert W. Scapens

Artikel ini cukup tebal yaitu sekitar 30 halaman, dan hal ini sangat wajar karena penulis menganalisis hasil penelitiannya dengan sangat rinci dan jelas. Analisis terdiri dari (1) dinamika pada perusahaan milik pemerintah Induk dan faktor yang mendorong mereka memutuskan untuk mengadopsi sistem manajemen baru yang disebut “fashionable management technic”; (2) budaya kerja perusahaan anak yang mengabaikan aspek efisiensi (yang menjadi karakteristik umum perusahaan miliki pemerintah); (3) konflik yang terjadi pada perusahaan anak ketika “fashionable management technic” dari perusahaan induk diimplementasikan pada perusahaan anak; (4) hingga muncul istilah Stability and Change yang menggambarkan implementasi sistem manajemen baru yang hanya bersifat kosmetik.

Artikel ini membahas problematika internal yang terjadi pada sebuah anak perusahaan BUMN yang diwajibkan oleh perusahaan induk untuk keluar dari zona nyaman mereka. Perusahaan induk pada penelitian ini merupakan sebuah SOE (seperti BUMN di Indonesia) yang bergerak dibidang eksplorasi migas, dan mengalami krisis kepercayaan diri dalam melakukan ekspansi usaha ke luar negeri (go international). Untuk meningkatkan kepercayaan diri dan reputasinya di mata stakeholder, maka perusahaan induk mengadopsi sistem manajemen barat dan menyewa konsultan barat untuk mengimplementasikannya. Karena tujuan reputasi tersebut, maka artikel ini menuliskan sistem ini dengan istilah “fashionable management technic”. Sistem manajemen ini sangat fokus pada efisiensi produksi untuk memberikan nilai tambah ekonomi yang maksimal. Oleh sebab itu, semua aktifitas harus diukur dengan ukuran – ukuran keuangan, dan aktifitas yang tidak memiliki nilai tambah ekonomi dan tidak efisien harus ditiadakan. Disamping itu, perusahaan induk tidak hanya mengadopsi sistem manajemen barat, namun karyawan yang bekerja di perusahaan induk juga didominasi oleh kaum ekspatriat.

Sebagai konsekuensinya, perusahaan anak juga diwajibkan untuk menerapkan sistem manajemen baru tersebut. Seperti perusahaan milik pemerintah pada umumnya, budaya kerja perusahaan anak selama hanya berorientasi pada produktifitas. Mereka bekerja dengan anggaran yang telah disediakan, dan perbedaan antara anggaran dan realisasinya tidak pernah menjadi hal yang dipermasalahkan. Singkatnya, perbincangan tentang aspek keuangan dalam setiap rapat dan pertemuan manajemen merupakan hal yang “tabu”. Begitu juga dengan pengukuran kinerja internal berdasarkan ukuran finansial, hal tersebut tidak pernah mereka lakukan. Oleh sebab itu, ketika penerapan sistem manajemen baru yang sangat berorientasi pada ukuran – ukuran keuangan, menimbulkan konflik dan penolakan internal pada perusahaan anak.

Penolakan terjadi secara terselubung dan tidak muncul kepermukaan. Para manajer perusahaan anak mengeluhkan bahwa mereka diperlakukan seperti “mesin”, karena semua kegiatan selalu mengikuti standar dan berhubungan dengan kinerja keuangan dan efisiensi. Langkah strategis manajemen anak terhadap tekanan perusahaan induk adalah dengan tetap menggunakan indikator keuangan dalam pengukuran kinerja internal mereka, namun tidak pernah menggunakan informasi keuangan tersebut dalam pengambilan keputusan manajemen. Bahkan mereka mengakui bahwa kinerja mereka memang dievaluasi berdasarkan indikator keuangan, namun hal tersebut tidak merefleksikan apapun dari kinerja mereka. Sebuah perilaku organisasi modern yang paradoksikal.

Demikian ulasan singkat saya tentang artikel yang ditulis oleh Siti-Nabiha. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita. Jika membutuhkan artikel aslinya, silahkan unduh pada link berikut. Sampai jumpa lagi pada ulasan artikel berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *