KAKUTILA Bag.1: Hindari Penyakit Sering Gonta-Ganti Topik

Halo rekan, selamat datang di sesi KAKUTILA (Lika Liku Peneliti Pemula) bag.1 blog saya. Pernahkan merasa tidak punya ide ketika diminta untuk menulis artikel? Saya pernah mengalami masa – masa itu. Namun, kita tetap harus menulis karena mungkin tuntutan tugas. Lebih buruknya lagi apabila dipertengahan jalan, artikel yang kita tulis tersebut berasa nggak banget. Akhirnya muncul keinginan kita untuk  beralih ketopik baru. Pengalaman saya dulu, mencari topik baru itu merupakan pelarian sementara. Karena apa? ternyata topik baru tersebut bukannya menjadi solusi, tapi malah semakin tidak jelas dan semakin menambah rasa frustasi. Aduh, bahaya. Begitulah siklus tersebut terjadi secara berulang. Dan pada waktu mendekati deadline, rasa panik dan putus asa semakin  menguasai diri. Jika rekan – rekan pernah mengalami hal seperti ini, mungkin tips versi saya berikut ini dapat membantu. Sekali lagi, tips ini saya sarikan dari pengalaman diri saya pribadi.

Alasan saya sering mengganti topik

Agar dapat menghindari dan mengobati penyakit ini, saya harus mengenali dulu penyebabnya. Keinginan saya untuk sering mengganti topik pada dasarnya disebabkan karena saya tidak memahami topik yang sedang saya tulis. Akibatnya, saya merasa kurang tertarik pada topik tersebut dan merasa tidak percaya diri. Saya menyadari bahwa diri saya membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk memahami beberapa topik tertentu. Sehingga sebelum topik tersebut tuntas saya pahami, saya sudah merasa putus asa dan bosan duluan. Ini karena proses memahami suatu topik membutuhkan mood, energi, waktu dan kesabaran.

Kerugian yang saya dapatkan

Penyakit suka mengganti topik ternyata sangat berbaya. Bagi saya pribadi, kerugian besar yang saya rasakan adalah saya kehabisan banyak waktu.

Solusi saya pribadi

Dari pengalaman saya mengalami beberapa kegagalan dalam menulis, akhirnya saya menemukan sendiri solusi yang dapat membantu saya menghindari hal tersebut.

1.Carilah topik yang menarik dan kekinian

Mencari topik yang menarik membutuhkan skill. Kita harus terbiasa melihat, mendengar dan membaca hal yang unik disekitar kita. Menemukan sesuatu yang menarik untuk ditulis membutuhkan “sense” atau rasa. Semakin sering kita berlatih, semakin peka dan semakin mudah menemukan isu baru dan unik untuk ditulis.

Mengapa menulis tentang topik yang kekinian penting? Karena disamping relevan dengan isu yang sedang dibahas oleh masyarakat, topik yang kekinian dapat membuat kita lebih percaya diri. Topik yang kekinian juga membuat kita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga kita dapat menikmati proses menulis. Perlu diingat bahwa menulis artikel membutuhkan energi, waktu dan pikiran. Jadi pastikan rekan – rekan menikmati proses yang melelahkan tersebut. Menulis topik yang kekinian dapat menjadi salah satu trik agar kita dapat menikmati proses menulis.

Pada tahap ini, cara paling mudah yang sering saya praktikkan adalah mencari topik panas “hot topic” yang sedang menjadi perbincangan publik. Misalnya tentang tax amnesty, tentang impor sapi, atau tentang kabut asap pembakaran hutan.

2.Kuasai topik tersebut

Seperti ungkapan peribahasa “tak kenal maka tak sayang”, begitulah yang saya alami dulu. Berawal dari kekurangpahaman saya terhadap topik yang saya tulis, lama kelamaan membuat saya tidak tertarik pada topik tersebut. Saya pribadi sering menandakan tingkat ketertarikkan saya pada sebuah topik, tandanya “jika saya tidak bisa menceritakan kembali tentang apa yang saya pahami dari sebuah topik, berarti saya tidak tertarik pada topik tersebut”.

Menguasai topik sangat penting agar kita mengerti dengan apa yang sedang kita tulis. Saya dulu sering menulis topik yang tidak saya kuasai. Akibatnya, setiap terjadi diskusi saya mudah sekali merasa terombang – ambing. Jika ada teman yang memberi masukan A, hal itu terasa benar. Begitu pula jika ada teman yang memberi masukan B, itu juga terasa benar. Nah, ini lah yang berbahaya, karena sangat terbuka peluang kita untuk tergoda mengganti topik yang seolah – olah terdengar lebih menarik. Oleh sebab itu, kenali dengan baik topikmu. Sering – sering lah berlatih, berargumen dengan diri sendiri tentang pertanyaan “apa sih tujuan dan hasil yang ingin dicapai pada akhir artikel ini”, “untuk siapa topik ini cocoknya”, “apa bidang yang menjadi payung besar topik ini”, dan sebagainya, kemudian cari jawabannya sendiri (dalam hati saja). Berdialog dengan hati sangat penting dalam proses menguasai topik yang sedang kita tulis.

3.Topik sebaiknya managable

Setiap penulis boleh – boleh saja berimprovisasi, tapi ingat bahwa kita menulis ada target waktu. Memilih topik yang terlalu “spektakular” namun tidak sanggup kita kuasai dalam target waktu tertentu, itu sama saja dengan bunuh diri. Tidak hanya mahasiswa yang diberi target waktu dalam menulis, penulis novel yang ada di luar sana juga punya target waktu dalam menyelesaikan novelnya. Oleh karena itu, topik yang baik dalam konteks ini adalah topik yang managable.

Topik yang tidak managable dapat membuat panik pada waktu mendekati deadline, sehingga akan membuat kita ingin mengganti topik yang dirasa seolah – oleh lebih ringan. Padahal, topik yang dianggap ringan juga belum tentu menjadi solusi cantik.

Tentu saja poin ini berkaitan dengan dua poin sebelumnya ya rekan. Agar tidak mudah gonti – ganti topik maka sebaiknya topik harus managable. Sementara, agar suatu topik dapat dimanage dan selesai tetap waktu, maka topik harus menarik tapi juga kita harus mampu mengukur diri, apakah dapat dikuasai dalam waktu yang ditargetkan.

Ohya, topik dan judul tidak sama ya. Mengapa topik harus ditentukan diawal sebelum menulis? Karena topik merupakan “ruh” atau intisari yang nanti akan kita kembangkan atau kita kerucutkan dalam membuat badan tulisan. Jadi, topik ini lah yang akan menjadi kompas kita dalam bercerita. Topik bersifat lebih luas, contohnya: topik tentang tax amnesty. Artinya tulisan kita nanti akan mengulas hal tentang tax amnesty dan hal – hal yang berkaitan dengannya. Sementara judul, bersifat lebih spesifik dan kontekstual. Judul merupakan cerminan isi tulisan secara keseluruhan. Oleh sebab itu, judul biasanya diperoleh pada tahap akhir setelah tulisan terbentuk, ini akan sangat memudahkan. Contohnya: peran tax amnesty dalam merubah pola pikir wajib pajak. Judul tersebut akan lebih mudah keluar ketika ulasan kita tentang topik tax amnesty selesai , dan tentunya judul tersebut memperlihatkan bahwa kita juga bercerita tentang wajib pajak dan pola pikir mereka tentang pajak.

Demikianlah tips dari saya dalam menghindari penyakit sering gonta ganti topik. Jika rekan memiliki tips yang lebih tokcer, jangan lupa sharing di sini ya. Sampai ketemu lagi di sesi KAKUTILA (Lika liku peneliti pemula) berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *