Review artikel #4: Benarkah Akuntansi Lingkungan Lebih Rumit dari Akuntansi Konvensional

Halo, bagi rekan yang sedang menulis atau berniat menulis tentang topik akuntansi manajemen lingkungan (atau Environmental Management Accounting, EMA) apakah pernah berpikir tentang pertanyaan berikut?

  1. Mengapa harus ada Akuntansi Manajemen Lingkungan, apakah akuntansi manajemen konvesional tidak mampu memberikan informasi dampak dan biaya lingkungan?
  2. Perusahaan tentunya memiliki rencana pengelolaan lingkungan yang handal, namun mengapa mereka kebanyakan gagal melaksanakan atau mengeksekusi program lingkungan yang handal tersebut. Dan mengapa sering terjadi konflik antara manajemen pengelola dampak lingkungan dengan manajemen akuntansi biaya.
  3. Mengapa topik Akuntansi Manajemen Lingkungan termasuk jarang diperbincangkan dikalangan profesional, meskipun  Akuntansi Manajemen Lingkungan merupakan topik yang menjadi raising issue di abad ini.
  4. Mengapa Akuntansi Manajemen Lingkungan sulit diimplementasikan oleh perusahaan?

Jika rekan sedang mencari jawaban dan argumentasi seputar pertanyaan – pertanyaan di atas, maka artikel yang akan saya review kali ini dapat dijadikan salah satu rujukan. Silahkan disimak review berikut ini dan jika membutuhkan artikel aslinya, silahkan diunduh pada link yang tersedia di bagian akhir review ini.

Judul Asli :

Environmental Management Accounting as a Reflexive Modernization Strategy in Cleaner Production

Penulis : Robert Gale (2006)

Sekilas dari judulnya, artikel ini menggambarkan pembahasan tentang strategi perusahaan dalam menghadapi modernisasi dengan mengimplementasikan Akuntansi Manajemen Lingkungan. Namun, semakin didalami, lebih jauh artikel ini mayoritas membahas tentang panduan pelaksanaan Akuntansi Manajemen Lingkungan dari UNDSD (suatu kelompok kerja PBB yang berada dibawah divisi Sustainable Development). Sang author berpendapat bahwa praktik Akuntansi Manajemen Lingkungan sulit diimplementasikan karena sering terjadi double counting errors yang kemudian berakibat pada sulit pengumpulan informasi biaya lingkungan. Menurut author double counting terjadi karena distorsi biaya. Contoh distorsi biaya yang dimaksud oleh author dijelaskan dalam artikel tersebut.

Sebenarnya ada banyak panduan pelaksanaan Akuntansi Manajemen Lingkungan yang dapat diadopsi perusahaan, misalnya General Reporting Initiative (GRI) yang berlaku global, atau Program Penilaian Peringkat Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) yang berlaku nasional di Indonesia. Sekali lagi, penggunaan panduan tergantung pada definisi Akuntansi Manajemen Lingkungan itu sendiri dan kepentingan atau tujuan dibalik penyiapan pelaporan kinerja lingkungan tersebut. Nah, artikel ini lebih fokus pada pembahasan tentang panduan UNDSD karena dari awal definisi author tentang Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) memang sudah terlihat lebih cenderung kepada informasi biaya (moneter) dan fungsinya sebagai alat yang dapat mendukung efisiensi (penghematan) proses produksi. Lebih jelasnya author mendefinisikan Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) sebagai proses pengitungan dan pelaporan biaya. Namun pada praktiknya kebanyakan pengitungan biaya lingkungan yang dilakukan perusahaan seringkali terjadi double counting errors. Artikel ini berusaha menjelaskan alasan mengapa sering terjadi double counting errors dan memberikan solusinya. Menurut mereka, double counting errors terjadi karena biaya lingkungan merupakan biaya yang tersembunyi (hidden cost) sehingga sulit untuk ditelusuri dan dilaporkan. Sehingga, berdasarkan tujuannya tersebut author membangun argumentasi bahwa Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) metodologi dari UNDSD merupakan alat yang cukup ampuh untuk menghindari double counting errors. Maksudnya, panduan ini memberikan arahan teknis cara penghitungan dampak dan biaya lingkungan secara lebih rinci dan terstruktur.

Artikel ini menjelaskan bagaimana panduan UNDSD dapat membantu praktik Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) menghindari double counting errors. Menurutnya, panduan UNDSD yang disebut sebagai Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) metodologi, menuntun melalui 5 langkah (atau 5 kategori) tahapan pengitungan biaya lingkungan. Kategori 1, adalah identifikasi biaya biaya emisi dan limbah berdasakan end of pipe method. Limbah dan emisi yang keluar pada pipa pembuangan akhirnya diidentifikasi dan dihitung biayanya. Kategori 2, adalah pengitungan biaya berdasarkan kegitan pencegahan dan pengelolaan lingkungan. Artinya semua kegiatan dan aktifitas yang berakibat pada penurunan sumber daya , penurunan fungsi konservasi dan penurunan biodiversity mengindikasikan adanya praktik manajemen lingkungan yang tidak tepat. Biaya yang timbul dari aktifitas tersebut ditelusuri dan dilaporkan. Namun, tidak mudah melakukan pengitungan biaya berdasarkan kegiatan pencegahan dan pengelolaan lingkungan. ini karena banyak dari jenis biaya tersebut terdistorsi dan tercampur dengan biaya penanganan limbah yang telah dilakukan pada kategori 1. Disamping itu, juga tidak mudah menentukan biaya pengelolaan lingkungan, karena terkendala di area tanggungjawab fungsional. Artinya, sering terjadi tidak sejalannya manajemen lingkungan dengan manajemen biaya untuk lingkungan. Selanjutnya, kategori 3 menghitung biaya lingkungan yang berasal dari bahan baku yang terbuang sebagai limbah dan emisi. pada level ini tantangan antara praktik dan konseptual bertemu. Secara konseptual, pengelolaan biaya fokus pada manajemen agar bahan baku yang dibeli tidak terbuang menjadi limbah untuk meningkatkan efisiensi. Begitu juga dalam hal pengelolaan lingkungan, semakin sedikit limbah yang dibuang kelingkungan maka semakin baik kinerja lingkungan perusahaan. Namun pada level praktik hal ini menjadi tantang tersendiri. Tidak mudah untuk mengumpulkan informasi biaya tersebut.

Kategori 4 mengitung biaya proses yang terlibat dalam terjadinya proses produksi yang tidak efisiend dan berakibat pada terjadinya limbah dan emisi, yaitu biaya tenaga kerja dan biaya modal. Mengapa hal ini juga dihitung? Karena produk yang dihasilkan oleh keterlibatan tenaga kerja dan modal ini adalah produk non komersial (non produk). Namun biaya ini juga sulit untuk dihitung dan dilaporkan karena biaya ini terdistorsi atau tercampur dalam biaya produk komersial. Kategori 5 mengitung pendapatan yang diperoleh melalui kontribusi perusahaan dalam mengelola dampak lingkungan. Misalnya kontribusi dari kegiatan mendaur ulang limbah, menghasilkan energi listrik dari limbah untuk kepentingan komunitas. Pendapatan dari subsidi pemerintah dan penghargaan lingkungan.

Meskipun secara konseptual Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) metodologi bertujuan memberikan solusi dari keterbatasan akuntansi konvensional dalam memperhitungkan biaya  lingkungan, namun secara praktik implementasi ini terkendala pada sifat biaya lingkungan yang pada umumnya merupakan hidden cost. Namun, author berargumentasi bahwa berhasil atau gagalnya perusahaan mengimplementasikan Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) berdasarkan panduan UNDSD tersebut, insiatif implementasi tersebut tetap merupakan suatu progres yang positif. Ada dua hal yang menjadi keberhasilan dari Implementasi Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) (terlepas apakan pelaksanaannya berjalan sukses atau tidak), yaitu Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) dapat menjadi pionir strategi perusahaan dalam menghadapi perubahan eksternal. Dan juga Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) mampu mendorong perusahaan bertransformasi kearah sustainable corporation dalam jangka panjang. Artinya disini, author menyadari bahwa tidak mudah untuk mengimplementasikan Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA). Namun, inisiatif terhadap hal tersebut tetap memberikan langkah maju dalam merespon modernisasi.

Implementasi Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) akan mendorong isu tersebut menjadi perbincangan para profesional yang selama ini belum aktif mempromosikan Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) pada lingkungan bisnis. Artinya, para profesional belum menganggap isu Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) penting karena dari perusahaan sendiripun kebutuhan akan implementasi Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) belum begitu signifikan. Tentu ini akan berbeda jika perusahaan mulai berinisiatif mengimplementasikan EMA. Karena pengimplementasian Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) sebagai teknik manajemen dapat mempengaruhi cara organisasi beroperasi. Operasionalisasi teknik manajemen yang mengintegrasikan dampak dan biaya lingkungan dalam evaluasi kinerja perusahaan dapat menjadi awal bagi perusahaan untuk memahami proses produksi bersih yang dapat digunakan.

Demikian ulasan singkat saya tentang artikel ini. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita. Jika membutuhkan artikel aslinya, silahkan Download pada link berikut. Sampai jumpa lagi pada ulasan artikel berikutnya.

Download Environmental Management Accounting as A Reflexive Modernization Strategy in Cleaner Production

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *