KAKUTILA Bag,2: Cara Membuat Tulisan yang Original

Halo rekan, selamat datang di sesi KAKUTILA (Lika Liku Peneliti Pemula) bag.2 blog saya. Rekan, pernahkah mendengar kata originalitas? Apa yang terpikirkan oleh rekan sekalian ketika pertama kali mendengar kata tersebut. Kita semua tahu bahwa setiap ide dituntut agar memiliki muatan originalitas, begitu juga dengan ide tulisan karya ilmiah. Artinya, tulisan karya ilmiah yang rekan hasilkan tidak boleh mengandung unsur plagiarisme. Ketika pertama kali mendengar kata originalitas,  saya merasa sangat bersemangat dan sekaligus bingung. Saya merasa bersemangat karena saya membayangkan betapa kerennya bisa menghasilkan suatu karya yang belum pernah ada, dan berbeda sama sekali dari orang lain. Namun, saya juga merasa bingung karena membayangkan sulitnya menemukan ide yang betul – betul belum pernah terpikirkan oleh orang lain, dan saya harus menjadi orang pertama yang memikirkan ide tersebut (ada yang pernah mengalami hal demikian?). Tapi itu dulu, sebelum saya mempelajari bagaimana pola hasil karya penulis lain yang dianggap original.

Austin Kleon, penulis buku “Steal like an artist” mengatakan bahwa nothing is original, yang artinya bahwa originalitas itu sejatinya tidak ada di dunia ini. Saya setuju dengan statement tersebut jika kita mendefinisikan bahwa originalitas adalah sesuatu yang benar – benar baru, belum pernah ditemukan sebelumnya, atau belum pernah dipikirkan sebelumnya oleh orang lain. Sehingga, jika rekan – rekan dituntut oleh guru, dosen dan orang lain untuk menulis sesuatu yang memiliki originalitas, atau bebas plagiasi, maka originalitas yang dimaksudkan di sini memiliki makna yang berbeda.

Semua karya yang ada didunia ini, termasuk tulisan ilmiah sekalipun, terwujud karena inspirasi dari gagasan, ide dan karya orang lain. Bukti sederhananya bisa dilihat dari artikel ilmiah yang selalu didukung oleh pendapat – pendapat orang lain yang dikutip atau disitasi oleh si penulis. Tanpa adanya dukungan tersebut, justru kekuatan tulisan tersebut semakin dipertanyakan. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya ide kita tidak muncul dan hidup dalam ruang hampa. Kita tidak mungkin bisa tumbuh dan berkembang tanpa pengaruh orang lain, begitu juga dengan pikiran kita. Jika tulisan kita bagus, pasti ada yang menginspirasi kita. Bagaimana kita menulis, sangat dipengaruhi oleh apa yang kita baca.

Bukti lain bahwa tulisan terwujud dari gagasan orang lain adalah pengulangan topik. Pernahkah rekan menyadari bahwa topik yang kita tulis pada dasarnya itu – itu saja, bahkan sudah dibahas secara berulang – ulang pada tulisan sebelumnya? misalnya topik tentang akuntansi yang saya tulis, dari zaman dahulu sampai sekarang topik tentang akuntansi selalu membahas tentang bagaimana suatu entitas berupaya memperoleh kemakmuran, melaksanakan proses bisnis yang beretika dan transparan, taat kepada panduan dan regulasi pemerintah, atau pengukuran kinerja keuangan dan non keuangan entitas. Hal tersebut selalu dibahas secara berulang – ulang dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi, tidak pernah berubah. Lalu apa originalitasnya?

Originalitasnya ada pada “kita”. Nah, bingung kan? Iya, saya juga bingung dulunya, tapi sekarang sedikit – sedikit mulai mengerti. Istilah “kita” ini pertama kali saya dengar dari dosen saya. Ketika itu saya membuat sebuah tulisan yang langsung dibaca dan dievaluasi oleh dosen tersebut di depan kelas. Kalimat pertama yang beliau ucapkan setelah membaca tulisan saya adalah “Eka nya dimana?”, “kenapa Eka nya tidak muncul dalam tulisan ini”. Saya bengong, tidak memahami maksud beliau. Ketika diminta untuk merevisi tulisan tersebut saya merasa frustasi dan bingung karena tidak bisa menonjolkan sosok “Eka” dalam tulisan itu. Kenapa? Karena saya tidak paham apa yang diminta oleh dosen saya. Ternyata dengan memunculkan “kita”nya dalam suatu tulisan, disitulah originalitas terbentuk. Pada saat itulah saya kemudian menyadari bahwa dosen saya sedang mem-push dan mendorong saya untuk berani menulis agar uniqueness dan originalitas saya keluar. Agar tulisan saya berbeda dari orang lain meskipun topik yang dibahas sama. Intinya, kejadian tersebut menjadi titik balik gaya menulis saya untuk menghasilkan karya tulisan yang original. Tidak masalah jika tulisan kita jelek, yang penting itu original alias tidak plagiat. Karena kualitas tulisan bisa diperbaiki seiring berjalannya waktu, tapi kebiasaan meng-copy paste tidak bisa diperbaiki sampai kapan pun. Berikut beberapa tips yang saya sarikan dari pengalaman saya sendiri dalam membuat tulisan yang original (sekurang – kurangnya original menurut saya sendiri dan dosen saya tadi). Yuk… mari disimak:

1.Membaca

Sebagaimana yang saya sampaikan pada bagian di atas bahwa kita tidak mungkin bisa menulis tanpa pengaruh dari orang lain. Dengan begitu maka tulisan kita juga dipengaruhi oleh warna tulisan orang lain. Membaca adalah sahabat karib menulis, maksudnya tanpa membaca saya tidak mungkin bisa menulis. Kenapa? Karena membaca memberikan saya inspirasi. Sebagian berpendapat bahwa inspirasi ada dimana – mana, memang betul. Misalnya, seorang pedagang terinspirasi oleh model dagangan orang lain. Siapa bilang go jek tidak terinspirasi dengan model bisnis transportasi online lainnya, kita Cuma tidak tahu saja. Begitu juga dengan traveloka atau tokopedia, tidak mungkin mereka tidak terinspirasi oleh model bisnis yang mirip dengan itu. Artinya, tidak mungkin ide mereka muncul dari ruang hampa. Sekali lagi, kita hanya tidak tahu mereka terinspirasi dari mana.

Begitu juga dengan kita sebagai penulis. Jika kita menulis maka kita harus melihat model dan gaya tulisan orang lain agar kita terinspirasi. Sama seperti contoh berdagang tadi, menulis pun demikian. Misalnya, saya menulis tentang akuntansi lingkungan yang bagi sebagian orang merupakan topik yang baru. Itu salah besar, karena saya juga terinspirasi banyak dari tulisan – tulisan orang lain diluaran sana yang juga menulis tentang akuntansi lingkungan. Hanya saja banyak orang yang tidak tahu kalau tulisan saya merupakan produk dari bacaan – bacaan dan inspirasi yang saya peroleh dari tulisan orang lain yang sejenis. Jadi, jika tidak ingin kehabisan ide dan selalu terinspirasi untuk menulis, rajin – rajinlah membaca khususnya tulisan – tulisan orang lain yang mirip dengan tulisan yang akan kita tulis.

2.Serap dan lepaskan

Membaca juga ada tekniknya (insyaallah saya akan bahas pada kesempatan yang lain, ya..). Namun, secara garis besar tujuan membaca adalah untuk menambah wawasan dan menemukan inspirasi. Oleh sebab itu, cobalah membaca secara efektif. Intinya, serap informasi sebanyak mungkin selama membaca, setelah itu lepaskan. Artinya, pahami istilah, konsep, dan hal – hal penting lainnya dari bacaan tersebut, kemudian hayati dan jiwai. Nah disini kita mulai menjadi pembaca aktif. Mengapa harus dipahami, dihayati dan dijiwai? Kenapa harus menjadi pembaca aktif? Ada beberapa alasan, pertama, dengan memahami, menghayati dan menjiwai dengan baik, dan dengan menjadi pembaca aktif, kita akan menemukan hal – hal yang kita setujui dan hal – hal yang tidak kita setujui. Pengalaman saya, saya sering merasa setuju dengan hampir semua bacaan saya. Nah, kalau begini kejadiannya maka saya akan menambah bacaan berikutnya agar saya dapat melihat gambaran yang lebih besar dari informasi yang saya peroleh dari bacaan awal tadi. Ohya, perlu diingat bahwa mengumpulkan informasi dari membaca ibaratnya menyusun kepingan puzzle, berserakan dan tidak beraturan. Oleh sebab itu, penting sekali memperbanyak bacaan untuk dapat memperoleh gambaran umum tentang posisi kita saat ini. Selain menambah bahan bacaan, biasanya saya memilih poin – poin yang paling saya setujui (sukai) dari beberapa poin yang saya suka tadi. Biasanya, ketika saya menentukan pilihan tersebut, saya akan berusaha mencari alasan kenapa saya menyukai sebuah poin, gagasan atau konsep yang ditawarkan oleh bacaan tadi. Selama proses mencari – cari alasan tersebut, secara perlahan muncullah suaru hati (dialog dengan diri sendiri), muncullah “saya” yang mulai mencari pijakan sendiri.

Setelah hal – hal penting dari sumber bacaan tersebut kita peroleh, kemudian lepaskan. Kenapa harus dilepaskan? Karena tujuan kita menemukan originalitas. Jika kita tidak melepaskan maka kita akan terbelenggu oleh bacaan tersebut. “kita”nya tidak keluar, dan akan merasa baik – baik saja dengan apa yang kita baca. Cobalah keluar dari pengaruh bacaan tersebut karena kita membaca tidak untuk menjiplak, sebaliknya kita membaca untuk menemukan inspirasi. Bagaimana caranya lepas dari belenggu bacaan, kalau saya paling suka menggunakan metode ATM (amati, tiru dan modifikasi) dalam proses melepaskan diri dari belenggu bacaan tadi. Tips ini merupakan cara lain disamping menambah bahan bacaan dan memilih gagasan yang paling disukai.

4.Gunakan metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi)

Kembali lagi saya mengutip pernyataan Austin Kleon bahwa “Everything is a remix”, yang maksudnya adalah semua karya dan temuan itu hasil ramuan ulang. Dalam bahasa ilmiahnya ramuan ulang diungkapkan dengan istilah sintesis. Nah, dalam meramu ulang proses mengamati terjadi ketika kita membaca. Selama membaca, kita akan mengamati cara dan gaya penulisan orang lain, kita mengamati ide orang lain, kita mengamati alur berpikir orang lain. Setelah mengamati, cobalah untuk meniru dan memodifikasi. Meniru akan menghasilkan output yang mirip, namun jangan lupa juga melakukan modifikasi. Meniru dan memodifikasi akan menghasilkan output yang serupa tapi tak sama, bahkan bisa berbeda jauh, disinilah originalitas dapat terbentuk. Modifikasi sebuah tulisan dapat dilakukan dengan cara mengubah perspektif atau sudut pandang, mengubah cara penyampaian, mengubah penggunaan istilah dan kata – kata yang digunakan dalam penyampaian pesan. Cara yang paling sederhana untuk melakukan itu adalah dengan menuliskan sebuah ide atau gagasan dengan gaya kita sendiri, dengan kata – kata kita sendiri dan dengan suara hati kita sendiri (meskipun gagasan umumnya sama dengan tulisan sebelumnya). Singkatnya, disinilah “kita”nya keluar, originalitas muncul dan bebas plagiat.

Nah rekan – rekan, itu semua dari saya tentang menulis yang original. Sekali lagi, tulisan ini merupakan curhatan saya sebagai seorang peneliti pemula yang sedang belajar dan menapaki setiap lika liku proses menulis. Curhatan ini saya dedikasikan untuk rekan – rekan agar tidak bingung dalam menyelesaikan tulisannya. Namun, tentunya curhatan ini berasal dari pengalaman pribadi bisa berbeda dari pengalaman orang lain. Oleh sebab itu, tentunya rekan lain juga punya pengalaman tersendiri yang bisa disharing di sini. Apa pengalaman rekan – rekan ketika harus menulis dengan original dan bebas plagiat? Tulis di kolom komentar ya.

Terimakasih dan Salam berbagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *