Apa itu “social construction”?

Halo rekan-rekan, sering mendengar istilah social construction namun tidak memahami maksud dari istilah tersebut? Tenang, pada postingan kali ini saya akan membahas tentang social construction. Postingan ini diharapkan dapat menambah wawasan rekan-rekan dalam memahami istilah tersebut. Semakin paham, maka akan semakin mudah menulis, dan semakin cepat selesai tugas akhirnya. Jika tulisan ini bermanfaat, jangan lupa dishare kepada rekan – rekan lain yang juga membutuhkan ya. Ilmu yang sering dibagikan, manfaatnya tidak akan pernah berkurang. Yuk, mari diikuti.

Arti kata Social Construction

Kata social construction (konstruksi sosial) menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI ) dapat diuraikan sebagai berikut. Konstruksi artinya bangunan atau bentuk, sosial artinya yang berhubungan dengan masyarakat. Sehingga dapat disebutkan bahwa social construction adalah bentukan masyarakat.

Realitas sosial

Segala sesuatu yang ada di alam raya ini merupakan realitas, dan setiap realitas memiliki bentuk. Sebagian realitas memiliki wujud atau bentuk fisik, dan sebagian realitas lainnya tidak memiliki wujud (metafisik). Realitas fisik tidak perlu diperdebatkan karena bentuknya absolut, susunan dan struktur fisik dan kimianya pasti dan jelas, dan dapat dibuktikan dengan panca indera. Sebaliknya realitas metafisik tidak absolut (atau abstrak), tidak memiliki wujud, tidak dapat dibuktikan dengan panca indera, namun bukan berarti realitas itu tidak ada. Jika realitas fisik dibentuk oleh susunan dan struktur fisik, maka sebaliknya realitas metafisik dibentuk oleh apa? Ya… benar, realitas metafisik dibentuk oleh sosial.

Contoh realitas fisik misalnya air. Air memiliki wujud cair, struktur kimianya pasti H2o yaitu terdiri dari 2 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen. Realitas air tidak perlu diperdebatkan karena sudah absolut dan pasti. Apa yang membentuk realitas air? Air adalah bentukan fisika dan kimia. Namun bagaimana dengan realitas uang Rp 50.000,-? Realitas uang Rp 50.000,- adalah contoh realitas metafisik (lihat: Searle, 1995).

Meskipun uang Rp 50.000,- memiliki realitas fisik yaitu selembar kertas berwarna biru, namun fungsi uang Rp 50.000,- dalam transaksi ekonomi tidak bersifat absolut dan pasti. Hari ini uang Rp 50.000,- dapat digunakan untuk membeli 2 kg beras, esok hari belum tentu uang dengan realitas fisik yang sama dapat digunakan untuk memperoleh 2 kg beras. Apa / siapa yang membentuk realitas bahwa selembar kertas berwarna biru dengan tulisan Rp 50.000,- diatasnya dapat digunakan untuk membeli 2 kg beras? Ya, benar. Realitas bahwa selembar kertas berwarna biru dengan tulisan Rp 50.000,- diatasnya adalah bentukan sosial. Artinya ada interaksi sosial dan kesepakatan sosial yang menetapkan bahwa uang Rp 50.000,- dapat ditukar dengan 2kg beras, meskipun kesepakatan tersebut tidak tertulis, namun realitas bahwa uang Rp 50.000,- dapat ditukar dengan 2kg beras benar – benar ada (existance). Siapakah sosial yang dimaksud disini? atau dalam bahasa lain, siapakah sosial yang berperan sebagai pengatur interaksi dan kesepakatan realitas uang tersebut? ya, benar. Jawabannya adalah institusi (lembaga) keuangan.

Realitas sosial dapat dibentuk dan dihancurkan

Jika realitas sosial dapat dibentuk oleh sosial (baca: institusi), maka realitas sosial tersebut juga dapat dihancurkan (Lawrence, Suddaby, & Leca, 2011). Misalnya pada realitas uang di atas, jika fungsi dan peran uang sebagai alat tukar hilang maka realitas uang juga akan hilang, meskipun realitas fisik kertasnya tetap ada. Mengapa demikian, karena interaksi dan kesepakatan sosial tentang fungsi uang tersebut sudah TIDAK ADA, maka realitas sosial dari uang juga TIDAK ADA.

Akuntansi sebagai bentukan sosial

Akuntansi juga merupakan bentukan sosial. Kita semua sepakat bahwa akuntansi berfungsi memberikan informasi kepada pihak yang berkepentingan (user). Oleh sebab itu, siapa yang membentuk realitas akuntansi? Jawabannya adalah stakeholder dan shareholder (user). Stakeholder, misal pemerintah membutuhkan laporan pajak perusahaan. Informasi yang berhubungan tentang hal tersebut disiapkan oleh akuntansi. Begitu juga, jika shareholder (pemegang saham) membutuhkan laporan tahunan, maka laporan tersebut disiapkan oleh akuntansi. Kapan realitas akuntansi hilang? Apabila user tidak lagi membutuhkan laporan dan informasi keuangan (dan non keuangan) dari perusahaan, maka secara otomatis fungsi akuntansi akan hilang dan realitas akuntansi juga hilang. Sebaliknya, selama user masih membutuhkan laporan akuntansi dan ekspektasi user terhadap laporan dan informasi akuntansi semakin meningkat, maka peran, fungsi dan realitas akuntansi juga semakin kuat keberadaannya.

Perspektif social constructionism dalam ilmu pengetahuan sosial

Realitas sosial merupakan objek kajian dalam ilmu pengetahuan sosial (Alvesson, 2009). Secara spesifik, perspektif social constructionsm dalam ilmu pengetahuan sosial mempelajari bagaimana sosial membentuk sebuah realitas. Bagaimana interaksi dan konflik sosial dapat menjadi driver terbentuknya sebuah realitas baru dalam masyarakat dan sosial.

Kesimpulan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa

  1. Realitas sosial adalah realitas metafisik
  2. Meskipun demikian, bukan berarti realitas sosial itu tidak ada. Bukti bahwa realitas sosial itu ADA dilihat dari adanya interaksi, kesepakatan, dan aturan yang dibentuk oleh sebuah lembaga sosial (institusi)
  3. Interaksi sosial sangat komplek, namun interaksi sosial tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan tujuannya. Interaksi pada sekelompok masyarakat untuk tujuan tertentu, yang dilengkapi oleh atribut kesepakatan dan aturan yang menjadi struktur pembentuk realitas sosial disebut institusi.
  4. Institusi keuangan bertujuan mengatur, menyiapkan pedoman dan panduan tentang realitas dan fungsi uang. Stabilitas nilai tukar uang, dan inflasi merupakan bagian yang diatur oleh institusi keuangan.
  5. Realitas dapat dibentuk dan juga dapat dihancurkan (dihilangkan) oleh sosial.
  6. Realitas akuntansi juga merupakan bentukan sosial (social construction), karena akuntansi dibentuk oleh adanya interaksi antara laporan akuntansi dan user.
  7. Realitas akuntansi dapat hilang/hancur apabila user tidak lagi membutuhkan laporan akuntansi.
  8. Singkatnya, social construction = realitas yang timbul akibat interaksi masyarakat yang memiliki tujuan tertentu. Dengan kata lain, social construction adalah realitas yang timbul akibat adanya opini publik.

Rujukan

Alvesson, M. (2009). (Post-) positivism, social constructionism, critical realism: Three reference points in the philosophy of science. In M. Alvesson & K. Skoldberg (Eds.), Reflexive Methodology: New Vistas for Qualitative Research (2nd ed., Vol. 15, pp. 15–52). Londo: SAGE Publications, Ltd.

Lawrence, T., Suddaby, R., & Leca, B. (2011). Institutional Work: Refocusing Institutional Studies of Organization. Journal of Management Inquiry, 20(1), 52–58. http://doi.org/10.1177/1056492610387222

Searle, J. R. (1995). The Construction of Social Reality. New York: THE FREE PRESS.

Semoga bermanfaat. Selamat menulis…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *